AKUSTIK STUDIO MUSIK (SMALL MUSIC ROOM / PRACTICE ROOM / LIVE RECORDING ROOM)




Bagaimana sebenarnya sebuah studio musik yang sukses? Tentunya yang menghasilkan banyak uang, dan publik senang dengan studio tersebut, namun itu sangat subjektif. Kenyataannya, ada banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesan sebuah studio musik selain kualitas bunyi, namun kualitas bunyi di dalam studio merupakan hal yang vital, setidaknya untuk kesuksesan jangka panjang (Everest, 2009).

Dalam berbagai sumber, setidaknya ada 4 faktor yang harus diperhatikan dalam mendesain studio musik, yaitu :
1.       Room Modes dan Standing Waves
2.       Waktu Dengung
3.       Sebaran Bunyi dalam Ruang (Room Diffusivity) dan Flutter Echoes
4.       Background Noise / Insulasi bunyi


                Dalam sebuah ruang yang berbentuk kotak, bunyi yang terjadi dalam ruang pasti memiliki sejumlah pantulan yang beresonansi (modes) karena adanya bidang yang paralel sehingga terjadi adanya peningkatan kekuatan sehingga dapat mengaburkan karakter bunyi aslinya. Pantulan tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah standing waves, namun tidak semua standing waves adalah modes. Fenomena pantulan yang beresonansi (modes) dalam ruang berbentuk kotak dapat terjadi dalam 3 kondisi yaitu axial, tangential, dan oblique.

                Axial modes terjadi jika bunyi memantul di antara 2 sisi dinding yang paralel misalnya antara dinding depan dan belakang, tangential modes terjadi jika bunyi memantul di antara 4 sisi dinding yang paralel misalnya antara dinding depan, samping kiri, belakang, dan samping kanan, sedangkan oblique modes terjadi jika bunyi memantul di antara 6 sisi dinding yang paralel misalnya antara dinding depan, langit-langit, samping kiri, dinding belakang, samping kanan, dan lantai.

                Untuk lebih mudah memahami pantulan yang beresonansi dalam ruang (room modes), kita dapat melihat fenomena pantulan bunyi di sudut ruang yang siku. Sebuah berkas energi bunyi yang mengarah ke sudut ruang selalu dipantulkan kembali menuju sumber bunyi tersebut. Secara akustik, hal ini merugikan, karena pantulan bunyi yang kembali ke arah sumber bunyi dapat menyebabkan pantulan berulang sehingga dapat terjadi resonansi atau bahkan flutter echo. Kejadian tersebut menyebabkan bunyi menjadi tidak jelas.

                Dalam ruang persegi, energi bunyi merambat dan memantul di antara dinding-dinding pembatas, dan di sudut ruang, energi bunyi terutama di frekuensi rendah terkonsentrasi. Adanya sudut ruang dan dinding pembatas yang paralel menyebabkan distribusi bunyi tidak merata. Intensitas bunyi terkonsentrasi di sekitar sudut ruang dan di antara dinding paralel, hal ini tidak baik jika menginginkan respon frekuensi ruang yang cenderung “flat”. Dengan adanya room modes, bunyi bisa menjadi lebih keras atau lebih pelan dari bunyi yang seharusnya diterima.
   
Dalam konteks studio rekaman, respon frekuensi yang cenderung “flat” menentukan kualitas rekaman karena “tone colour” yang dihasilkan dari alat musik tidak mengalami perubahan signifikan. Perbaikan akustik ruang juga dapat dimulai dari melihat di frekuensi mana terdapat room mode di dalam respon frekuensi ruang.
 
Untuk mengatasi masalah tersebut, Seppmeyer (1965) memberikan perbandingan untuk dapat meminimalkan jumlah modes yang terdapat dalam ruang yang berbentuk persegi. Perbandingan antara tinggi, lebar, dan panjang ruang. Dalam perbandingan, tinggi ruang yang disarankan selalu konstan, karena dalam kenyataannya, tinggi ruang adalah dimensi yang tidak dapat diganggu gugat karena menyangkut tinggi bangunan, sedangkan yang lebih mudah dimanipulasi adalah lebar dan panjang ruang. Dalam perbandingan terdapat tipe ruang ideal A, B, dan C yang dapat digunakan sesuai dengan kondisi di lapangan. Misal jika kita menggunakan perbandingan tipe A, jika tinggi ruang 3m, maka lebar ruang setidaknya 3,42m, dan panjang ruang 4,17m.

Tinggi                    Lebar                     Panjang
A             1.00                        1.14                        1.39
B             1.00                        1.28                        1.54
C             1.00                        1.60                        2.33

                Dalam kenyataannya, ruang persegi sulit dihindari dan sering ditemui adanya ruang yang terlanjur sudah dibangun dengan perbandingan yang tidak disarankan, sehingga perlu solusi alternatif dalam mengatasinya. Setidaknya untuk mengurangi jumlah modes, ruang-ruang bersudut siku (90 derajat) harus di eliminasi, salah satu caranya adalah dengan menggunakan corner trap di setiap sudut ruang. Selain dapat mengurangi room modes, corner trap juga dapat berfungsi sebagai bass trap jika di dalamnya diisi mineral wool.
               
Solusi lain adalah dengan membentuk ruang menjadi tidak paralel sehingga pantulan berulang dapat diminimalkan. Dengan bentuk yang tidak persegi dan tidak paralel, maka jumlah resonansi bunyi dapat diminimalkan dan bunyi di dalam ruang lebih “diffuse”.

Selain itu penggunaan panel-panel penyebar (diffuser) juga dapat mengurangi pantulan berulang. Penggunaan diffuser tentunya juga disesuaikan dengan kebutuhan yang akan dibahas dalam bab lain.
Jika ingin mempertahankan bentuk ruang persegi karena keterbatasan ruang atau karena tidak ingin ada ruang yang terbuang, maka bisa dilakukan dengan memasang panel diffuser di seluruh bidang pembatas yang ada kecuali lantai, namun cara ini relatif lebih mahal.
 

Waktu Dengung (Reverberation Time)

                Dalam studio musik, kebutuhan waktu dengung menjadi hal yang cukup subjektif. Dalam studinya, Lamberty (1980) mencatat terdapat 59% murid musik yang lebih menyukai ruang musik yang “live”, 11% lebih menyukai ruang musik yang “dead”, dan 30% lebih menyukai ruang musik yang di tengahnya (balanced). Dalam penelitiannya, ruang yang dianggap “dead” berkisar antara 0,4-0,5 detik, sedangkan ruang yang “live” berkisar antara 0,8-0,9 detik, sehingga didapatkan rata-rata waktu dengung yang diinginkan adalah berkisar di angka 0,7 detik. Penentuan range waktu dengung ditentukan berdasarkan kesukaan pemakai ruang.

                Waktu dengung setiap frekuensi memiliki nilai yang berbeda-beda dan biasanya analisis berkisar di frekuensi 125-4000Hz. Nilai waktu dengung memiliki kecenderungan lebih panjang di frekuensi rendah dan lebih pendek di frekuensi tinggi. Disarankan untuk menjaga nilai waktu dengung tersebut berkisar antara 10% dari target waktu dengung, misalkan target waktu dengung adalah 0,7 detik maka waktu dengung tidak boleh kurang dari 0,63 detik atau lebih dari 0,77 detik. Waktu dengung di frekuensi rendah boleh lebih panjang daripada target, namun tidak lebih pendek, sedangkan waktu dengung di frekuensi tinggi boleh lebih pendek daripada target, namun tidak lebih boleh lebih panjang.

                Dalam akustik ruang juga dikenal adanya Bass Ratio (BR) yang menyarankan perbandingan antara frekuensi rendah dan frekuensi tinggi, yaitu perbandingan antara frekuensi 125Hz + 250Hz dengan 500Hz + 1000Hz, dimana perbandingan yang disarankan adalah berkisar anatara 1,1 – 1,3. Perbandingan tersebut juga menentukan karakter ruang, apakah ruang tersebut berkarakter hangat (warmth) atau terang (bright/brilliance).

                Untuk meraih waktu dengung yang disarankan, penggunaan panel-panel penyerap dalam ruang perlu dilakukan. Untuk mengatasi waktu dengung di semua frekuensi, kita perlu melihat properti dari material / panel penyerap tersebut. Dalam banyak sumber, kita bisa melihat kemampuan penyerapan dari setiap material / panel di berbagai frekuensi.

AKUSTIK STUDIO MUSIK (SMALL MUSIC ROOM / PRACTICE ROOM / LIVE RECORDING ROOM

Room Diffussivity dan Background Noise

ROOM DIFFUSSIVITY

                Room Diffusivity atau sebaran energi bunyi di dalam ruang menjadi penting ketika ingin mendapatkan respon frekuensi ruang yang “flat” dalam studio rekaman. Ketika ruang tersebut tidak “diffuse” secara merata maka akan timbul potensi adanya sinyal bunyi yang terdistorsi seperti terjadinya flutter echo atau room modes. Flutter echo adalah pantulan bolak-balik yang dapat mengurangi kejelasan bunyi karena bunyi seakan akan ditumpuk-tumpuk dengan bunyi pantulan yang memiliki selisih intensitas bunyi di bawah 10 dB dari bunyi langsung. Jika dilihat dalam bentuk sinyal, maka perbedaan bunyi yang tidak “diffuse” / spekular dengan bunyi “diffuse” adalah sebagai berikut:
               
                Dapat dilihat dalam gambar di atas bahwa pantulan yang “diffuse” memiliki bentuk respon frekuensi yang cenderung lebih datar daripada pantulan spekular. Dalam pantulan yang spekular juga berpotensi menyebabkan “comb filtering” dimana sinyal membentuk grafik semacam sisir yang berpotensi mengubah karakter bunyi asli yang akan sulit di edit walaupun dengan peralatan rekaman yang canggih sekalipun!

                Ciri-ciri dari ruang yang “diffuse” adalah (Everest, 2009):
1.       Peluruhan waktu dengung terlihat “smooth” / menurun dengan selisih yang tidak berjauhan.
2.       Nilai waktu dengung sama di seluruh posisi di dalam ruang
3.       Karakteristik peluruhan cenderung sama di seluruh frekuensi

Sebelum ditemukannya teknologi diffuser, Brown (1964) menyatakan bahwa tidak mungkin kita melakukan “treatment” yang merata di semua bidang, namun setidaknya kita bisa melakukan beberapa hal untuk mendapatkan ruang yang “diffuse”, diantaranya adalah:
1.       Memberikan penyerapan pada bidang yang paralel
2.       Membentuk bidang-bidang pembatas sehingga tidak paralel dalam ruang

Namun, setelah ditemukannya teknologi diffuser oleh Schroeder (1975) maka bermunculan produk-produk diffuser yang dapat mengatasi masalah gema, flutter echo, bahkan room modes. Keunggulan dari diffuser ini adalah mampu meminimalkan flutter echo dan meningkatkan “diffuse” ruang tanpa mengurangi waktu dengung secara signifikan. Sedangkan kekurangannya adalah harga diffuser yang relatif mahal, sehingga peletakannya diusahakan ditempatkan di posisi-posisi yang signifikan. Posisi di dekat sumber suara seperti di belakang drum, di tengah ruang, dan di antara bidang-bidang yang paralel sehingga dengan menggunakan panel-panel diffuser kita tidak perlu mengubah bentuk ruang keseluruhan.

BACKGROUND NOISE

                Salah satu parameter yang penting dalam merancang studio musik adalah Background Noise. Background noise adalah kebisingan dalam ruang yang disebabkan oleh sumber bunyi di luar ruang seperti suara kendaraan bermotor, pesawat, kereta api, ataupun suara bising dari ruang sebelah. Dalam studio musik, nilai background noise yang terlalu tinggi akan sangat mengganggu keseluruhan kegiatan produksi baik rekaman, mixing, maupun mastering. Sinyal bunyi dari luar ruang akan masuk ke dalam rekaman jika tidak ditangani. Nilai background noise sangat bergantung pada sistem insulasi bunyi yang diterapkan dalam bangunan. Nilai background noise yang disarankan untuk sebuah studio musik / rekaman sangat rendah yaitu tidak boleh melebihi 20 dB.



Komentar